BACKGROUND
Save the Children mulai melaksanakan Program Sponsorship jangka panjang di Kabupaten Sumba Barat pada tahun 2014 dan di Kabupaten Sumba Tengah pada tahun 2015 melalui kerja sama dengan pemerintah daerah dan mitra lokal, yaitu Perkumpulan Stimulant Institute di Sumba Barat dan Yayasan Wahana Komunikasi Wanita di Sumba Tengah. Program ini dilaksanakan berdasarkan Theory of Change (ToC) yang menekankan keterlibatan aktif anak, keluarga, komunitas, masyarakat sipil, pemerintah, dan sektor lainnya sebagai agen perubahan untuk meningkatkan pemenuhan hak-hak anak agar dapat hidup sehat, belajar, dan terlindungi. Di Indonesia, Program Sponsorship di Nusa Tenggara Timur mencakup tiga tematik dan enam area inti, yaitu Kesehatan Ibu dan Anak (MNCHN), Pengasuhan dan PAUD (ECCD), Pendidikan Dasar (BE), Kesehatan dan Gizi Sekolah (SHN), Perkembangan Remaja (AD), serta Perlindungan Anak (CP). Seiring mendekatnya fase pengakhiran program, diperlukan upaya untuk memastikan keberlanjutan hasil program dan penguatan kepemilikan oleh pemerintah daerah, masyarakat, dan aktor kunci di tingkat lokal. Program Sponsorship melalui pendekatan integrated programming telah mengimplementasikan berbagai intervensi Child Protection untuk memperkuat sistem perlindungan anak di tingkat masyarakat dan pemerintah daerah. Intervensi tersebut mencakup penguatan kelembagaan masyarakat seperti PATBM dan TPPK, peningkatan kapasitas pemangku kepentingan, serta penguatan mekanisme rujukan dan pelaporan kasus. Namun demikian, efektivitas implementasi intervensi Child Protection masih menghadapi sejumlah tantangan. Kinerja PATBM dan TPPK belum menunjukkan fungsi yang optimal, ditandai dengan masih rendahnya pelaporan kasus serta belum kuatnya kepercayaan masyarakat terhadap mekanisme perlindungan yang tersedia. Selain itu, dampak intervensi terhadap kesejahteraan anak, khususnya terkait rasa aman, perlindungan, dan akses terhadap layanan, belum terukur secara komprehensif. Di sisi lain, Program Sponsorship juga sedang berada dalam fase transisi pelokalan yang mendorong penguatan kepemimpinan dan kepemilikan pemerintah daerah serta masyarakat termasuk anak sebagai agent of change terhadap keberlanjutan program. Selama ini, pendekatan pelokalan lebih banyak berfokus pada penguatan sistem, seperti kebijakan, anggaran, dan intervensi sektoral. Namun, dinamika di lapangan menunjukkan bahwa keberlanjutan program tidak hanya ditentukan oleh kesiapan sistem, tetapi juga oleh faktor individu yang berperan sebagai penggerak perubahan (champion). Tingginya mutasi dan pergantian personel di tingkat dinas, serta risiko ketergantungan pemerintah daerah pada pendanaan nasional yang saat ini mengalami efisiensi, menjadi tantangan terhadap keberlanjutan hasil program. Dalam konteks tersebut, aspek individual agency dan system ownership menjadi penting untuk dipahami lebih mendalam. Dalam studi ini, individual agency merujuk pada kapasitas dan motivasi individu—baik dari mitra lokal (CSO), kader masyarakat, maupun fasilitator program—untuk bertindak secara proaktif mendukung keberlanjutan program. Sementara system ownership merujuk pada proses di mana komitmen individual tersebut berkembang menjadi kepemilikan kolektif pada level institusi atau komunitas. Proses transformasi dari individual agency menuju system ownership dalam konteks pelokalan belum banyak terdokumentasikan dan dipahami secara sistematis. Berdasarkan kondisi tersebut, diperlukan dua studi yang saling melengkapi, yaitu studi mengenai efektivitas intervensi Child Protection dalam integrated programming dan studi Most Significant Change (MSC) mengenai “Human Drivers of Localization: From Individual Agency to System Ownership in Sponsorship Programs”. Kedua studi ini diharapkan dapat memberikan pembelajaran strategis terkait kontribusi intervensi terhadap perlindungan dan kesejahteraan anak, sekaligus mengidentifikasi faktor-faktor manusiawi dan kelembagaan yang memengaruhi keberlanjutan program dalam proses pelokalan. Hasil studi akan menjadi dasar penguatan strategi program, pembelajaran organisasi, serta rekomendasi bagi pengembangan pendekatan keberlanjutan dan kepemilikan program di masa mendatang.
OBJECTIVES
Menghasilkan pembelajaran strategis mengenai efektivitas intervensi Child Protection dalam integrated programming serta memahami pengalaman perubahan dari champion yang mendorong keberlanjutan dan ownership program dalam proses pelokalan Program Sponsorship.
Tujuan Khusus 1: Efektivitas Intervensi Child Protection
- Menilai efektivitas intervensi Child Protection, khususnya terkait fungsi dan kinerja PATBM (di tingkat desa) dan TPPK (di tingkat sekolah) – dalam mekanisme pelaporan dan penanganan kasus, serta akses layanan perlindungan anak.
- Mengidentifikasi kontribusi intervensi Child Protection terhadap peningkatan kesejahteraan anak, termasuk rasa aman, perlindungan, dan dukungan layanan yang diterima anak dan keluarga (dapat dilihat di bagian annex).
- Menganalisis perubahan kesadaran, kepercayaan, dan perilaku masyarakat terkait pelaporan kasus perlindungan anak serta persepsi terhadap mekanisme perlindungan di tingkat komunitas.
- Melakukan asesmen kualitas layanan CBCP (Community-Based Child Protection) menggunakan instrumen standar SCI CBCP Quality of Service secara kuantitatif, untuk menghasilkan data terukur tentang fungsi dan kapasitas PATBM dan TPPK. (Lihat Annex B untuk detail instrumen dan pendekatan.)
Tujuan Khusus 2: MSC Study in “Human Drivers of Localization ( From Individual Agency to System Ownership) in Sponsorship Programs
- Menggali pengalaman terhadap perubahan paling signifikan terkait individual agency sebagai agent of change, motivasi, komitmen, dan ownership aktor kunci, termasuk actor kunci pemerintah, mitra lokal (CSO), kader masyarakat, dan fasilitator program—dalam mendukung keberlanjutan Program Sponsorship dalam mendukung keberlanjutan Program Sponsorship.
- Mengidentifikasi faktor-faktor yang mendorong transformasi dari individual agency menuju system ownership dalam konteks pelokalan dan keberlanjutan program.
- Menghasilkan rekomendasi strategis untuk penguatan pendekatan Child Protection, keberlanjutan program, dan strategi pelokalan di masa mendatang.
EXPECTED OUTPUT
Deliverable 1: Inception Report (Hari Kerja 1–15)
- Inception Report yang memuat metodologi studi, pendekatan pelaksanaan, rencana kerja (workplan), dan jadwal kegiatan secara rinci.
- Instrumen dan protokol pengumpulan data kuantitatif dan kualitatif yang telah disempurnakan.Rencana pelaksanaan dan kerangka analisis asesmen Community-Based Child Protection (CBCP) Quality of Service (QoS).
- Kerangka penjaminan mutu (quality assurance), pengelolaan data, serta pertimbangan etika dalam pelaksanaan studi.
- Hasil konsultasi dan penyempurnaan metodologi berdasarkan masukan dari Save the Children Indonesia.
Deliverable 2: Interim Learning Report (Hari Kerja 16–55)
- Laporan kemajuan (Progress Report) yang mendokumentasikan perkembangan pelaksanaan studi serta temuan awal mengenai efektivitas intervensi Child Protection dalam integrated programming.
- Analisis awal hasil asesmen CBCP Quality of Service (QoS) berdasarkan data monitoring yang telah tersedia. •Hasil validasi dan triangulasi temuan dari berbagai sumber data kuantitatif dan kualitatif.
- Reflection Paper yang mendokumentasikan pembelajaran awal, tantangan, praktik baik (promising practices), serta implikasi terhadap penguatan implementasi program.
- Fasilitasi sesi pembelajaran dan refleksi bersama Save the Children Indonesia serta pemangku kepentingan terkait, termasuk penyampaian hasil sementara dan diskusi terhadap temuan awal.
Deliverable 3: Final Analytical Report and Learning Presentation (Hari Kerja 56–75)
- Draft Final Report untuk proses peninjauan dan pemberian masukan oleh Save the Children Indonesia.
- Final Analytical Report yang telah mengakomodasi seluruh masukan dari Save the Children Indonesia dan pemangku kepentingan terkait.
- Analisis komprehensif mengenai efektivitas intervensi Child Protection dalam integrated programming, termasuk hasil asesmen CBCP Quality of Service (QoS), pembelajaran utama, dan sintesis temuan.
- Rekomendasi strategis untuk memperkuat sistem Perlindungan Anak, mendukung proses lokalisasi, serta meningkatkan keberlanjutan program.
- Learning Brief dan materi diseminasi untuk mendukung pembelajaran organisasi dan pemanfaatan hasil studi.
- Presentasi akhir serta fasilitasi lokakarya diseminasi hasil pembelajaran kepada Save the Children Indonesia, mitra lokal, dan pemangku kepentingan terkait.
Konsultan Pembelajaran Human Drivers of Localization: From Individual Agency to System Ownership in Sponsorship Programs
Deliverable 1: Laporan Awal (Hari Kerja 1–15)
Pada tahap awal penugasan, konsultan akan:
- Melakukan desk review terhadap dokumen program, referensi teknis, dan materi pendukung yang relevan.
- Menyelenggarakan inception meeting bersama Save the Children Indonesia untuk menyepakati ruang lingkup, metodologi, dan rencana pelaksanaan studi.
- Mengembangkan dan menyempurnakan desain studi, kerangka Most Significant Change (MSC), dan pendekatan Story Harvesting.
- Menetapkan domain perubahan, kriteria seleksi MSC Champions, strategi pengumpulan data, serta rencana kerja yang terperinci.
- Mengembangkan instrumen pengumpulan data, panduan wawancara, template dokumentasi cerita perubahan, dan mekanisme validasi.
- Menyusun pendekatan penjaminan mutu (quality assurance), pengelolaan data, dan pertimbangan etika penelitian.
- Merevisi dokumen berdasarkan masukan dari Save the Children Indonesia dan menyerahkan Laporan Awal (Inception Report).
Output: Laporan Awal (Inception Report) yang telah disetujui.
Deliverable 2: Laporan Pembelajaran Sementara (Hari Kerja 16–55)
Selama tahap implementasi, konsultan akan:
- Memberikan pendampingan teknis secara berkala kepada tim Save the Children Indonesia, mitra lokal, dan pihak terkait.
Required Qualifications and Experience
Konsultan harus memiliki kualifikasi berikut:
- Gelar lanjutan (lebih disukai master) dalam Ilmu Sosial, Studi Pembangunan, Antropologi, Sosiologi, Kebijakan Publik, Perlindungan Anak, MEAL, atau disiplin ilmu terkait lainnya.
- Minimal 7 tahun pengalaman profesional dalam penelitian kualitatif, pengembangan agenda pembelajaran, evaluasi, atau manajemen pengetahuan dalam program pembangunan atau kemanusiaan.
- Menunjukkan keahlian dalam menerapkan metodologi pembelajaran yang berpusat pada anak, partisipatif, dan kualitatif, terutama dalam Perlindungan Anak dan bidang tematik terkait.
- Pemahaman yang kuat tentang lokalisasi, keberlanjutan, perubahan sistem, dan pendekatan pengembangan yang dipimpin komunitas, dengan kemampuan untuk menganalisis konsep-konsep ini dalam konteks terprogram.
- Pengalaman bekerja dengan lembaga pemerintah, organisasi masyarakat sipil (OMS), kelompok berbasis masyarakat, dan program yang berfokus pada anak.
- Pengalaman yang terbukti dalam melakukan pengumpulan data kualitatif, fasilitasi FGD/KII, triangulasi, dan analisis data kualitatif.
- Keterampilan menulis laporan yang sangat baik dalam bahasa Inggris, dengan kemampuan yang ditunjukkan untuk menghasilkan produk pembelajaran analitis dan berbasis bukti.
- Pengalaman sebelumnya bekerja dengan LSM internasional, terutama dalam program hak anak, perlindungan anak, atau sponsor, adalah keuntungan.
- Keakraban dengan konteks sosial budaya Indonesia Timur, khususnya Sumba, sangat diinginkan.